Categories
Uncategorized

Keindahan Pantai dan Bukit di Sekotong Lombok Barat

“Pada hari Senin kita berpuasa, di mana kita pada hari Sabtu! Ayo!” Saya mengundang Goni, salah satu teman saya, melalui grup WhatsApp.

“Yukkk! Minggu lalu kamu bisa jalan-jalan, manfaatkan waktu.”

“Bagaimana kalau kita berkemah?” Zul balik bertanya.

“Oke, pergilah! Biarkan aku mengundang yang lain juga,” Goni menyimpulkan.

Tidak banyak mengomentari, saya hanya menerima rencana itu. Dari percakapan itu, saya dan enam orang lainnya setuju dengan keputusan Goni untuk berkemah di salah satu bukit di Lombok Barat. Acara berkemah ini, kami bermaksud menyambut bulan suci Ramadhan.

Pada hari Sabtu 4 Mei 2019, kami bertujuh (Nayla, Nindi, Goni, Zul, Jadid, Yeni, dan saya sendiri) berencana untuk menutup bulan Sa’ban di atas Bukit Buwun Mas Sekotong, Lombok Barat. Sekotong adalah salah satu kabupaten di Pulau Lombok, yang terletak di ujung barat Pulau Lombok. Kami memilih untuk berkemah di Bukit Buwun Mas karena dekat dengan kota Mataram dan memiliki pemandangan yang indah di malam hari dan siang hari.

Bukit Buwun Mas terletak di Desa Buwun Mas, Kabupaten Sekotong, Lombok Barat. Bukit Buwun Mas, sebut saja wisatawan. Bukit ini memiliki daya tarik yang menawan. Padang Savana berwarna hijau dan menawarkan pemandangan pantai dan bayi untuk gili (pulau kecil) dan bukit-bukit yang melapisi pantai Desa Sepi Kecamatan Sekotong, Lombok Barat.

Berbekal peralatan berkemah tadi malam, kami meninggalkan kota Mataram sekitar jam 2:00 siang. Setelah lewat untuk membeli logistik di berbagai supermarket di Mataram, kami berangkat dengan sepeda motor selama satu setengah jam dari kota Mataram ke kota Buwun Mas. Cussss Kita mulai dengan empat kendaraan roda dua.

Setibanya di lokasi parkir. Mereka meminta kami membayar biaya pembersihan dan kompensasi keamanan sebesar Rp. 25.000 per orang sudah termasuk tiket untuk memasuki area kamp. Cukup murah untuk pelancong di zaman kuno ini. Sebelumnya, kami mampir dan bertemu salah satu penggagas Sekotong Worldwide. Dia adalah salah satu orang dari Buwun Mas yang telah menetralisir Global Piece melalui berbagai acara. Baik maraton Mekaki dan trailer Sekotong. Dimulai oleh H. Mujahidin, Bukit Buwun Mas pertama kali dibuka untuk kawasan wisata pada tahun 2018. Dengan pemandangan yang hampir mirip dengan Pulau Padar, NTT. Bukit Buwun Mas cukup luas untuk menikmati keindahan alam Sekotong dari ketinggian.

Di malam hari, kita bisa menikmati cahaya terang dari perahu nelayan mencari ikan dan lampu kandang di teluk yang tenang antara desa Meang dan desa Sepi, tepat di kaki Bukit Buwun Mas. Ini membuat mata kita enggan untuk menutup.

Segelas kopi dan beberapa makanan ringan menemani malam kami. Ketika pagi tiba, kami bertujuh disambut oleh sinar matahari hangat yang naik di antara dua puncak Bukit Lemer, tepat di sebelah timur Bukit Buwun Mas.

Pukul 8:12 pagi, kami bertujuh meninggalkan Bukit Buwun Mas setelah mengambil beberapa foto. Kami bergegas memilah tenda dan barang-barang lainnya serta selalu membawa sampah kami untuk menjaga area kamp tetap bersih. Bukit Buwun Mas unik, ada beberapa Banjar (kelompok keluarga) di dalamnya dan banyak tanaman padi milik masyarakat ditanam di bukit.

Tepat jam 9:00 pagi kami tiba di tempat parkir tempat kami membeli tiket. Karena masih terlalu dini untuk kembali ke kota Mataram, kami memutuskan untuk mandi di salah satu pantai di kaki Gunung Buwun Mas. Rangkingan adalah salah satu dari puluhan pantai bagus di daerah Sekotong Selatan. Rangkinan tidak jauh dari kaki Bukit Buwun Mas. Hanya dalam 15 menit perjalanan kami menggunakan sepeda motor dan tiba di pantai Rangkingan.

Pantai Rangkingan tidak memiliki tempat parkir dan tidak memiliki loket penjualan tiket. Karena masih jarang mengetahui lokasi pantai, inilah yang membuat hanya kami bertujuh mengunjungi pantai Rangkingan ini. Meski situasinya tenang dan jarang dikunjungi, Pantai Rangkingan masih aman dari berbagai ancaman, karena sepeda motor bisa dibawa ke pantai.

Kami memutuskan untuk mandi, kami berempat memutuskan untuk mandi dan berenang di perairan jernih Pantai Rangkingan Sekotong.

“Setelah ini kita berpuasa,” kata Goni.

“Mari kita tutup minggu ini dengan senang hati menyambut bulan Ramadhan,” kata Zul, menutup pembicaraan kami sebelum memulai sepeda di pantai Rangkingan Sekotong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *